Thursday, 5 August 2010

Wednesday, 9 June 2010

THE MIRROR AND THE SCISSORS







02.35

AM.

Tidak pernah Fuu tidur di waktu seperti sekarang ini. Tidak pernah. Ia tidak pernah bisa tidur dengan normal.

Fuu tertawa dalam hati setiap kali kata ‘normal’ melintas di benaknya. Setiap kali kata ‘normal’ terdengar di telinganya. Bahkan setiap kali kata ‘normal terucap dari mulutnya. Juga setiap kali kata ‘normal’ tertulis dalam tiap kertas yang dibacanya. Tiap kali ia sendiri menulis kata ‘normal’.

Apa itu ‘normal’?

Bayangkan! Coba bayangkan!
Ketika dunia sudah sebegitu rumit dan bias, apa masih bisa kita tahu mana yang normal dan mana yang tidak normal?
Bisakah kita tetap berada pada dikotomi pilihan seperti itu?

Fuu menyunggingkan senyum sinis, hampir untuk dirinya sendiri. “Normal!” cemoohnya.

Ia berdiri di depan cermin panjang yang dipasang di dinding sebelah kanan lemari bajunya. Ia mengamati selama beberapa waktu, dirinya, atau paling tidak, seseorang di dalam cermin yang ia yakini sebagai dirinya.

Lucu betapa hidup tiap orang sebenarnya sangat tergantung pada cermin. Jika kaca untuk cermin tidak ditemukan, maka manusia harus punya paling tidak satu kolam di halaman rumahnya.

Untuk MELIHAT DIRINYA SENDIRI.

Orang bilang ‘berkaca’ karena melihat dirinya melalui kaca.
Jika masih menggunakan air kolam seperti pada masa Narcissus, mungkin bilangnya ‘berair’.

Pikiran Fuu sudah mulai melantur lagi. Mungkin memang diperlukan alat-alat seperti cermin ini supaya orang bisa melihat dirinya. Jika tidak begitu, manusia tidak akan bisa melihat dirinya sendiri, tidak akan bisa mengenal dirinya sendiri—selamanya bergantung pada apa yang orang lain lihat, untuk menentukan identitas dirinya.

Kita butuh cermin.

Fuu mengamati dirinya dengan seksama, penuh perhatian, sampai-sampai seolah sosok dalam cermin itu ‘menjauh’, semakin berbeda dan semakin tidak ia kenali.
Ia kurus. Semakin kurus, menurut orang-orang di sekitarnya. Menurut teman-teman kuliahnya, menurut kakak-kakaknya, menurut penjaga koperasi mahasiswa di kampusnya.
Yah, mana bisa lain lagi? Tentu saja aku makin kurus, Fuu membatin. Kecuali ia masih memiliki ibu, kecuali ia tidak hidup terpisah dari keluarganya, yang, ironisnya adalah keputusan dari dirinya sendiri. Kecuali ia berhenti mengkhawatirkan kuliahnya, kecuali ada cara menjadi bahagia tanpa melalui rasa sakit seperti mengeluarkan duri dari daging!

Tidak.
Untuknya, tidak ada cara lain selain itu.

Ia menatap cerminnya sekali lagi, masih bediri, sejenak beberapa detik seolah tertarik masuk dalam pikirannya sendiri. Tapi ia masih berdiri.

Rambutnya panjang. Sudah sangat panjang, menurutnya.

Ia tersentak, mendengar kaca jendelanya berkeletak. Seperti ada yang melemparinya dengan batu. Dengan cepat Fuu menyeberangi kamarnya dan menyentakkan tirai jendela.

Tidak ada batu.

Ia membuka sedikit daun jendelanya dan melihat tidak jauh tergeletak suatu benda yang tidak dapat dlihatnya dengan jelas. Tapi benda itu punya sayap.
Burung? Semalam ini?
Benda itu bergerak.
Mungkin kelelawar.
Fuu tertawa. Bahkan kelelawar menghabiskan Malam Minggu dengan mabuk-mabukkan, dan menabrak kaca jendela orang.
Ia mneggeleng-gelengkan kepala, dan menutup daun jendela serta tirainya.

Fuu kembali ke tempat tidurnya dan duduk bersila di atasnya. Ia bosan. Bosan dengan hidupnya. Bosan dengan orang-orang. Bosan dengan dirinya. Bosan berpikir.

Berpikir…
Berpikir…
Berpikir…

Benar-benar tidak bisakah manusia terbebas dari kutukan menjadi makhluk yang berpikir??! Ia berteriak, dalam hati.

Dirinya lelah memikirkan hal-hal yang tidak ingin dipikirnya.
Ia ingin istirahat. Ia ingin beristirahat dari kesadarannya sendiri. Tapi masalahnya, kita tak bisa menikmati istirahat tanpa kesadaran.

Ia berdiri lagi menghadapi cerminnya. Entah apakah ia harus bersyukur atau mengutuki cermin ini. Melalui cermin, ia bisa memahami dirinya. Bisa mengenal tubuhnya. Tapi dengan begitu ia hanya akan semakin bingung : dirinya yang ada di cermin itu, nyata atau ilusi?

Fuu menggelengkan kepala. Hidupnya terasa berputar-putar di sekelilingnya.
Ia lelah.
Sudah sering ia mengatakan hal itu pada teman-temannya. Tapi tak satupun tahu atau menyadari bahwa dirinya benar-benar lelah.

Ia merasa telah mencapai batasnya..

Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamarnya. Kamar yang telah kehilangan personal-touch darinya.
Ia butuh jalan keluar. Sebuah jalan yang bisa membebaskannya dari semua masalah yang ia yakini berasal dari dirinya sendiri. Betul. Dirinyalah yang menciptaan semua keputus-asaan dan kegelapan ini. Pikirannya. Semua berasal dari sana.

Apa yang harus dilakukannya? Ia tak bisa menghilangkan pikirannya, itu sama saja membunuhnya. Apa dirinya sungguh-sungguh ingin mati? Mungkin saja, ya… mungkin saja.

Fuu merasa matanya memanas sementara airmata mengalir ke pipinya. Ia tersiksa. Semuanya. Jiwa dan raga. Ia merasa terkoyak oleh kelelahan dan terbakar rasa marah. Marah pada dunia. Marah pada dirinya sendiri.

Ia meliha sebuah gunting di atas meja belajarnya. Sebuah gunting yang ia miliki sejak SMP.
Gunting yang cukup tajam.
Tidak.
Sangat tajam.
Mungkin gunting itu bisa memberinya jalan keluar…
Entahlah. Fuu ragu. Bukannya ia belum pernah mencoba… tapi ia gagal dalam percobaan beberapa waktu lalu.

Ia menggigit bibirnya yang gemetar. Jika sekali ini ia salah langkah, maka ia hanya akan malu.. ia tak mau hidup menjalani malu.
Ia memantapkan tekadnya.
Diambilnya gunting itu.
Dengan melihatnya saja ia tahu gunting itu benar-benar tajam.
Ia menggenggamnya kuat-kuat. Wajahnya mengeras dan matanya menyorot tajam.
Ia memandang dirinya sekali lagi ke dalam cermin.
Ia harus.
Ia tahu ia harus…

Matanya berkilat seperti mata gunting yang diangkatnya. Ia terus menatap cermin, dan dengan gerakan hati-hati, sedikit demi sedikit ia mengguntingi rambut panjangnya. Ia berhenti sebentar, mengukur-ukur dan menimbang, lalu mengambil lagi sejumput rambut dan mengguntingnya. Helai-helai rambut berjatuhan di bahunya, lalu ke lantai.
Fuu berusaha sehati-hati mungkin. Terakhir ia mencoba menggunting sendiri rambutnya, ia terlalu terburu-buru hingga hasilnya membuatnya frustasi beberapa minggu sampai akhirnya rambutnya kembali memanjang.

Fuu adalah gadis yang selalu berusaha melakukan segalanya sendiri. Itulah gunanya cermin, begitu Fuu berpikir.

Bercermin berarti melihat, menemukan, lalu memperbaiki.

Dan sekarang ia merasa perlu memperbaiki rambutnya. Kata siapa penampilan itu tidak penting? Penampilan seratus persen penting, menurut Fuu. Penampilan adalah bukti eksistensi seseorang, bukti keberadaan yang paling sah. Setiap orang memiliki penampilannya masing-masing, dengan begitu ia menjadi unik dan khas.

Ia selesai dalam waku kurang lebih satu jam. Fuu memandangi wajah barunya di cermin. Lebih baik dari sebelumnya.

Ia berlutut dan memunguti potongan-potongan rambut coklatnya yang berserakan di lantai.

“Kalau Mama masih hidup dan lihat ini,” ujarnya, tertawa kecil. “Dia pasti histeris.”

Jangankan melihat rambut mengotori lantai, mama Fuu pasti akan histeris melihat kehidupan Fuu yang sekarang. Sendiri di apartemen, sangat jarang membersihkan kamar, makan di tempat tidur, sampah yang berhari-hari tidak dibuang ke luar.

Fuu sendiri tidak peduli. Ia benar-benar sudah kehilangan arah dan ia sendiri tidak serius mencari apa yang hilang itu.

Ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak bisa dijelaskan bahkan oleh dirinya sendiri.
Mungkin itu ketakutan
Mungkin itu kemarahan
Mungkin itu kesia-siaan

Fuu mencampakkan potongan rambutnya ke tempat sampah dengan gerakan yang agak sarkastik.
Biar saja!
Aku tidak teburu-buru!
Biar saja begini adanya sekarang!

Tapi ada bagian dalam dirinya yang memberontak tiap kali ia berpikir demikian. Ia.. bagaimana mengatakannya? Ia menginginkan semuanya berubah. Ia tidak ingin menjadi dirinya yang sekarang.
Siapa yang ingin terdampar dalam keputusasaan?
Siapa yang ingin tergolek lemah di pasir waktu yang terus menyurut menyeret jiwa ke dalam kegelapan?
Tidak ada!

Fuu menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum getir. Oh, apakah diriku sekarang ini? Batinnya, bernyanyi sinis.
Jiwa yang absurd. Hampir mati, tapi tidak ingin mati.

Benar.
Satu bagian dari dirinya menginginkannya bertahan, menopangnya. Tapi Fuu tak tahu caranya bertahan. Ia bahkan sangat takjub akan keberhasilannya bertahan selama ini. Ia melalui semuanya begitu saja, tapi tak tahu caranya. Bukankah itu sangat lucu?

“Lucu,” bisik Fuu, sementara ia membersihkan tangannya dari sisa-sisa potongan rambut.

Ia duduk di samping jendela dan menggeser tirai, mendorong daun jendela. Kelelawar tadi sudah tidak ada. Mungkin sudah sadar dari ‘mabuk’nya dan terbang lagi. Mungkin jalan-jalan.
Fuu mengangkat bahu. Ia tidak melihat dengan jelas, tapi yakin yang tadi itu kelelawar.

Ia menopang dagunya dan memandang ke laur sana, pemandangan jalan yang cukup bagus dengan lampu-lampu pertokoan dan gedung yang berkelap-kelip. Suara bising kendaraan jauh di sana, dan samar-samar percakapan beberapa orang.

Ia mendengus. Banyak orang ber-Malam Minggu, sampai pagi berkeliling kota, tapi dirinya di kamar, sendiri, mengguntingi rambutnya.

Dengan mata yang sayu karena menahan kantuk dan efek kopi, Fuu melipat tangannya di jendela dan menyandarkan kepalanya.
Tidak apa-apa.
Yang dibutuhkannya adalah ketenangan.
Kalau bisa, ketenangan total.

Fuu memejamkan mata dan menghembuskan napas panjang.

Ia mendengar dari laptop-nya, memainkan Incognito , A shade of Blue. Selama beberapa jam dalam kerumitan pikirannya, ia nyaris tidak menyadari ada musik yang mengalun di kamarnya. Namu sekarang dengan ketenangan hati dan keteraturan detak jantungnya, ia bisa menikmati apa yang didengarnya.

Musik jazz menjelang pagi.
Ini sempurna.
Setidaknya untuk saat ini.

Fuu tertidur di jendelanya.


***


*picture >> Girl Before A Mirror by Pablo Picasso

Wednesday, 2 June 2010

my Sun in you




a little story, daily story
a few people sat around on a round seat
smiling
joking
laughing
realize how precious their time together
they were not telling everything about their personal life
but it wasn't a matter
they knew they were friends
they knew they were one
they knew how to appreciate one to another
just by a simple smile
simple laugh
simple poke

and i thought : 'just like holding the sun with my hand.'
'so this is what its like.'
'i could not create a sun just by myself.'
'i need them.'
'you all are make my sun perfect.'
'brighter.'
'stronger.'

'cannot imagine how my days are without you.'
'thank you.'
'philosophy 2007.'

Thursday, 20 May 2010

circle

It was come near midnight.
The moon was full, since it was about the mid of the month.
September, so it was either cold or warm. But it was rather warm that night.
Yaile standed up in her room, in her own house, a house nearby the shore.
An open luggage was opened on her bed, things wretched around it.
She looked up those things before her eyes thoughtfully.
And then she started murmuring herself.
“Pain,” a word she began with. “Check.”
And she packed it in her luggage.
Then she came to another, “Suffer,” and again, “Check.”
Then she packed it in also.
“Hatred.”
“Check.”
“Despair.”
“Check.”
“Fright.”
“Check.”
“Sorrow.”
“Check.”
“Distress.”
“Check.”
“Conniption.”
“Check.”
“Disillusion.”
“Check.”
“Bitterness.”
“Check.”
“Irony.”
“Check.”
“Remorse.”
“Check.”
“Boundary.”
“Check.”
“Constraint.”
“Check.”

Those all was packed up till the luggage seemed overloaded.
Yaile hesitated for a moment or two. She still had some other things to be packed off.
But it seemed enough.
“All right,” she spoke herself.
Then she lifted her luggage up, felt how heavy it was.
She needed more time as she tried in her all effort to bring it out of her house, to the shore.
It was reflux, of course, considering the full-moon.
Her hair was messed by the wind-blow. Very gusty the night was.
Very bright, so she could see even a small part of wave’s froth.
“Perfect,” she smiled at once.
Then she came at the watershed.
She pulled up all her effort in her hands, and threw the luggage to the open sea.
She noded, as her luggage soared on the waves and she smiled brightly when it finally lost, swept away.

“Bon adieu,” She whispered, no rued at all, and back to her house lightly.


Six months later, as Yaile enjoyed the warm air inside her house, she decided to take a little walk around the shore. So wavy that day, and the sun was so shiny, made a clear horizon over the off-shore.
She took her straw hat—green-coloured—put it on her head, and started to step her foot upon the sand.
Very pefect day, she thought.
She reached the fiord after some minutes, and sat a while.
Then she saw something that ruined all her good tempers.

Her luggage! Filthy, faded, but still she recognized it.
It was her luggage which she had thrown away that day six months ago.
It was still closed, with a padlock and also combination lock which—though looked damaged here and there—still kept it.
She stared at it, and in despair, he sighed.

“Quite round indeed, the world is,“ so she said loudly, with a sour face.
“They always back to you, no matter what!”

Friday, 14 May 2010

you may could never see me
never know me
never imagined before that i am all exist
you would never find me sitting under the umbrella
outside the cafe
you would never see me talking in a cocktail party
you would never see me laying on the wall aside a street
you would never see me in any way
nor you would ever hear me
nor you would ever smell me

because i am not my body
because i am not my eyes
because i am not my hair
because i am not my mouth


rather
i am the way i walk
i am the way i see
i am the way i talk
i am the way i think

i am not merely a bundle of fresh flesh and blood

i am 'exist'

changing in every second, every minute, every blink of eyes

i am 'exist'

i am not merely what you can sense with your sensory perception.

since all that you see are just the unfulfilled me

beyond that, i am more




you would find me this way :

when we finally reach what we never had reached before ; the greatest consciousness
where we shall fuse together
in a deep white of silence and 'nothingness'

no more eyes to see
no more mouth to talk
no more nose to smell
no more skin to touch

just a consciousness
a greatest consciousness

and you shall feel a tremendous comfort
a totality of peace

like you are in a garden with no end
full of glimmered stars
illuminating your eyes in a dazzle
an opaque luminescent

like the first sun you ever see
in the first dawn
like a glowing moon fills the black-canvas of the night

you just feel it as you lie on the top of the hill
by smell the grass and the first lily wake up
in the first morning of spring
after a long winter

and above all
it would be more like an everlasting rest
after tiring long journey
for both of us

in eternity

there